• Sabtu, 25 September 2021

Aliansi Ormas Bekasi : Pemulihan Sungai Cilemahabang dan Citarum Jangan Sebatas Seremonial

- Rabu, 8 September 2021 | 05:12 WIB
Aliansi Ormas Bekasi (AOB) menyoroti serius oencemaran limbah industri ke sungai di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Aliansi Ormas Bekasi (AOB) menyoroti serius oencemaran limbah industri ke sungai di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

BEKASI - Ketua Umum Aliansi Ormas Bekasi HM Zaenal Abidin menyoroti serius pencemaran limbah di Kali Cilemahabang dan Citarum Kabupaten Bekasi. AOB menilai, pemulihan ekonomi dapat dimulai dari penanganan limbah industri sebab penanganannya relatif mudah dikontrol dan diawasi.

"Yang menjadi sulit itu keseriusan pemerintah dalam menindak pelaku pencemaran dan kerusakan lingkungan," tegas H. Zaenal kepada wartawan, Selasa (7/9/2021).

Dia mengatakan, selama 10 tahun leboh berbagai program dan gerakan untuk mendukung restorasi Sungai Citarum dan Cilemahabang belum memberikan dampak yang signifikan.

Baca Juga: Penjabat Bupati Bekasi Sisir Sungai Hitam Cilemahabang dan Salurkan Air Bersih

”Citarum tetap tercemar berat oleh limbah industri, sampah, dan limbah rumah tangga, begitupun Cilemahabang kondisinya semakin parah, warga tidak lagi bisa mengkonsumsinya sebagai air minum, mandi dan lain lain, begitupun ikan dan hewan air terkena danpak akibat pencemaran sungai yang diakibatkan limbah industru," ujar H. Abidin.  

Menurutnya, sumber pencemar limbah yang signifikan di Sungai wilayah Bekasi adalah limbah industri. Padahal, pengendalian limbah industri seharusnya bisa lebih mudah dikontrol dibandingkan dengan jenis limbah rumah tangga.

“Kontribusi pada sektor industri jelas perlu izin sehingga bisa dikelola dan diawasi, terlebih untuk limbah yang dihasilkan. Teknologi pengolahan air limbah juga telah tersedia dan dapat disyaratkan serta relatif terjangkau oleh industri,” kata dia.

Diakuinya sebagai daerah dengan industri terbesar se Asia Tenggara, lebih dari 50 persen pabrik yang ada tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah. Akibatnya, sungai menjadi sasaran pembuangan limbah cair yang dinilai berbahaya, seperti kadmium, tembaga, nikel, timbal, dan arsenik.

"Pabrik itu membuang limbahnya cairnya yang berbahaya langsung ke sungai, berbeda dengan limbah padatnya diperebutkan banyak pengusaha limbah," ungkap H. Zaenal.

Halaman:

Editor: Doni Ardon

Tags

Terkini

Langgar Ketentuan PPKM, Polisi Segel Kafe Dan Bar Tebet

Selasa, 21 September 2021 | 15:09 WIB

Percepatan Vaksin Jabar, Juga Dikebut Kuningan 

Selasa, 21 September 2021 | 06:04 WIB

Uji Coba Pengunjung Mall Usia 12 Tahun ke Bawah

Senin, 20 September 2021 | 21:42 WIB
X